Creative Agency For Your

Needs

GrowTogether Video

#GrowTogether

Afila Media Karya Berkomitmen Untuk Mengembangkan Bersama Semua Pihak Produk dan Layanan Teknologi Yang Menghasilkan Dampak Positif Sebagai Bentuk Kepercayaan dan Integritas

Ikuti Kami

LAYANAN KAMI

Kami Siap Membangun Solusi Digital Anda.

  • Website Development

  • Membuat website tidak hanya sekedar jadi, tetapi membutuhkan analisis dan eksekusi yang tepat. Kami hadir untuk membantu anda melalui proses itu.

  • Mobile Development

  • Untuk beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan aplikasi mobile untuk bisnis, kami menghadirkan solusi pengembangan aplikasi mobile untuk Android dan iOS.

  • IT Consulting

  • Dengan pakar UI/UX kami, kami yakin dapat meningkatkan kenyamanan pelanggan atau pengguna di aplikasi Anda.

  • UI/UX Design

  • IT Consulting diperlukan guna merancang dan mendapatkan solusi IT yang tepat untuk mengoptimalkan proses bisnis Anda dengan pemanfaatan teknologi digital tepat guna

OUR PRODUCT

Each Product Of Ours Creates
Unforgettable Experience

eMonev

Sistem Informasi E- Monev adalah sistem yang digunakan untuk monitoring dan Evaluasi rencana pembangunan daerah yang transparan, cepat, terintegrasi, konsisten dan sesuai dengan aturan yang berlaku

eSakip

Sistem informasi E-Sakip bertujuan untuk memudahkan proses pemantauan kinerja perangkat daerah dalam rangka meningkatkan akuntabilitas & kinerja perangkat daerah. terintegrasi dengan Aplikasi E-Monev

SIM ASN

Sistem Informasi Manajemen Aparatur Sipil Negara adalah Aplikasi yang memudahkan pegawai dalam melakukan pelaporan aktivitas harian & absensi sebagai dasar pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP)

eMonev

Sistem Informasi E- Monev adalah sistem yang digunakan untuk monitoring dan Evaluasi rencana pembangunan daerah yang transparan, cepat, terintegrasi, konsisten dan sesuai dengan aturan yang berlaku

eSakip

Sistem informasi E-Sakip bertujuan untuk memudahkan proses pemantauan kinerja perangkat daerah dalam rangka meningkatkan akuntabilitas & kinerja perangkat daerah. terintegrasi dengan Aplikasi...

SIM ASN

Sistem Informasi Manajemen Aparatur Sipil Negara adalah Aplikasi yang memudahkan pegawai dalam melakukan pelaporan aktivitas harian & absensi sebagai dasar pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai...

Our portfolio

Interested in what we can do and how we assist clients in achieving their goals? Visit our portfolio for more information

View Portofolio

TESTIMONIALS

Their Statement About Us

NEWS AND BLOG

In Every Story Lies The Power To Change And Inspire

Memahami 4 Tahapan Penyusunan Pohon Kinerja Sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021

Mengapa Penjenjangan Kinerja Perlu Disusun Secara Tepat? Memiliki banyak program dan kegiatan belum tentu menjamin tercapainya tujuan organisasi. Tantangan dalam implementasi SAKIP adalah memastikan setiap sasaran, program, hingga kinerja individu memiliki keterkaitan yang jelas dengan hasil yang ingin dicapai. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian PANRB menerbitkan Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021 tentang Penjenjangan Kinerja Instansi Pemerintah sebagai pedoman dalam menyelaraskan sasaran, indikator, dan target kinerja. Salah satu tahapan penting dalam penjenjangan kinerja adalah penyusunan pohon kinerja. Agar pohon kinerja yang dibangun memiliki hubungan sebab-akibat yang logis dan mendukung pencapaian outcome, terdapat empat tahapan penyusunan yang perlu dilakukan secara berurutan. 4 Tahapan Penyusunan Pohon Kinerja Sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021 1. Menentukan Outcome atau hasil yang akan dijabarkan Tahap pertama adalah menetapkan outcome yang akan dijabarkan dalam pohon kinerja. Outcome yang ditetapkan harus menggambarkan hasil strategis yang ingin dicapai oleh instansi, yaitu perubahan kondisi yang diharapkan terjadi pada lingkungan maupun masyarakat. Oleh karena itu, penentuan outcome tidak dapat hanya berdasarkan perkiraan, tetapi perlu didukung oleh bukti ( evidence ), data yang andal, serta kondisi faktual atau isu strategis yang terjadi. Dalam menentukan outcome strategis, instansi perlu memperhatikan beberapa faktor, yaitu: Mandat tugas dan fungsi organisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Isu strategis atau permasalahan yang sedang dihadapi maupun yang akan dihadapi. Ekspektasi atau harapan masyarakat dan stakeholder terhadap kinerja organisasi. Penentuan outcome menjadi langkah awal yang penting karena akan memengaruhi keseluruhan bangunan kinerja instansi. Outcome yang tepat akan menjadi dasar dalam menentukan faktor keberhasilan, menyusun hubungan sebab-akibat, hingga menetapkan indikator kinerja yang sesuai. 2. Identifikasi Critical Success factor yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja atau outcome strategis Setelah menetapkan outcome strategis, tahap berikutnya adalah mengidentifikasi Critical Success Factor (CSF) yang dibutuhkan untuk mencapainya. CSF adalah area atau aspek-aspek kunci dan kritis yang berpengaruh dalam mewujudkan kinerja. Apabila CSF tercapai, maka outcome berpotensi besar untuk tercapai. Identifikasi CSF menjadi langkah awal dalam membangun model logis kinerja, yaitu dengan memahami kondisi apa saja yang diperlukan agar outcome dapat tercapai. Dalam menentukan CSF, instansi perlu memastikan bahwa faktor yang dipilih memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas terhadap pencapaian outcome, bukan hanya berdasarkan program atau kegiatan yang sudah berjalan. Dengan CSF yang tepat, instansi dapat menyusun pohon kinerja yang lebih logis dan mendukung pencapaian outcome strategis. 3. Uraikan Critical Succes Factor kepada Kondisi-kondisi Antara Sampai kepada Kondisi Paling Teknis atau Operasional Tahap ketiga adalah menjabarkan CSF menjadi kondisi antara hingga kondisi yang lebih teknis atau operasional. Proses ini dilakukan dengan menggunakan hubungan sebab-akibat: “Kondisi apa yang diperlukan agar CSF dapat terwujud?” Dalam tahap ini, instansi perlu fokus pada kebutuhan pencapaian kinerja terlebih dahulu, bukan langsung menghubungkan dengan program, kegiatan, struktur organisasi, atau anggaran yang sudah tersedia. Tujuannya adalah agar pohon kinerja yang dibangun benar-benar menggambarkan hubungan logis antara faktor penyebab dengan hasil yang ingin dicapai. 4. Melengkapi dengan Indikator Kinerja Tahap terakhir adalah melengkapi setiap variabel dengan indikator kinerja. Indikator berfungsi sebagai ukuran keberhasilan untuk melihat apakah sasaran, program, atau kegiatan telah mencapai hasil yang diharapkan. Indikator kinerja harus mampu menggambarkan pencapaian dalam bentuk: Output (keluaran) Outcome (hasil) Impact (dampak) Agar indikator yang disusun memiliki kualitas yang baik, indikator perlu memenuhi kriteria SMART: Specific ( Menunjukkan kondisi yang spesifik, tidak bias, atau bermakna ganda). Measurable ( Dapat diukur secara objektif, dan memiliki ukuran kuantitatif). Attainable ( Memungkinkan untuk dicapai, tidak terlalu sulit, namun tidak terlalu mudah dicapai). Relevant ( Memiliki keterkaitan dengan kinerja yang diukur). Timebound ( Memiliki batas waktu pencapaian yang jelas). Keempat tahapan tersebut menjadi fondasi dalam menyusun pohon kinerja yang logis dan berorientasi pada hasil. Dengan mengikuti setiap tahapan secara berurutan, instansi dapat membangun hubungan sebab-akibat yang jelas sehingga pohon kinerja dapat menjadi dasar penyusunan indikator, cascading, dan komponen kinerja lainnya. Untuk memahami lebih lengkap mengenai tahapan penjenjangan kinerja sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021, simak video berikut. https://www.youtube.com/watch?v=CIEdRnta8Ic Kelola Penjenjangan Kinerja Lebih Mudah dengan e-SAKIP Afila Menyusun pohon kinerja, cascading, indikator, hingga monitoring capaian secara manual dapat menjadi tantangan, terutama ketika melibatkan banyak unit kerja. Melalui e-SAKIP Afila , instansi dapat membantu mengelola penjenjangan kinerja secara lebih sistematis dan terintegrasi, mulai dari penyusunan sasaran hingga pemantauan capaian kinerja. Dengan pengelolaan kinerja yang lebih terstruktur, instansi dapat lebih mudah memastikan bahwa setiap program dan kegiatan benar-benar mendukung tujuan organisasi. Kelola kinerja instansi Anda lebih mudah bersama e-SAKIP Afila. Link Demo Aplikasi e-SAKIP: https://afila.co.id/esakip

7 Prinsip Dasar dalam Membangun Pohon Kinerja sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021

Mengapa banyak program dan kegiatan pemerintah terlaksana dengan baik, tetapi target pembangunan belum tercapai secara optimal? Salah satu penyebabnya adalah hubungan antara sasaran, program, dan kegiatan belum tersusun secara logis. Akibatnya, organisasi kesulitan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar berkontribusi terhadap hasil yang ingin dicapai. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menerbitkan Permen PANRB No. 89 Tahun 2021 tentang Penjenjangan Kinerja Instansi Pemerintah . Salah satu instrumen krusial yang diperkenalkan dalam regulasi ini adalah Pohon Kinerja. Pohon kinerja merupakan alat bantu untuk mengawal struktur logika sebab-akibat atas berbagai kondisi yang diperlukan organisasi dalam menghasilkan outcome yang diinginkan. Agar pohon kinerja yang dibangun memiliki kualitas logis yang ideal, instansi pemerintah wajib memegang teguh 7 prinsip umum berikut ini: 1. Logis Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam penyusunan pohon kinerja adalah tidak adanya hubungan sebab-akibat yang jelas antar sasaran. Akibatnya, organisasi sulit menunjukkan kontribusi program terhadap outcome yang ingin dicapai. Karena itu, pohon kinerja harus disusun secara logis, di mana setiap level menjadi faktor pendorong bagi tercapainya level di atasnya. 2. Empiris Tidak sedikit organisasi merumuskan solusi tanpa memahami akar masalah yang sebenarnya. Akibatnya, program yang dijalankan sering kali tidak menyelesaikan persoalan utama. Oleh karena itu, penyusunan pohon kinerja harus didasarkan pada kondisi faktual, data, dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. 3. Antisipatif Perubahan teknologi, regulasi, dan kebutuhan masyarakat dapat memengaruhi keberhasilan organisasi di masa depan. Karena itu, pohon kinerja perlu mempertimbangkan peluang dan tantangan yang mungkin muncul agar strategi yang disusun tetap relevan. 4. Dinamis Lingkungan strategis organisasi terus berubah. Jika pohon kinerja tidak diperbarui, strategi yang dijalankan berisiko kehilangan relevansi. Oleh karena itu, pohon kinerja perlu disempurnakan sesuai perkembangan kondisi yang dihadapi organisasi. 5. Holistik Permasalahan pembangunan umumnya tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Karena itu, penyusunan pohon kinerja perlu mempertimbangkan keterkaitan dengan urusan atau faktor lain agar solusi yang dihasilkan lebih komprehensif. 6. Out of the Box Mengulang program yang sama setiap tahun belum tentu menghasilkan perubahan yang lebih baik. Prinsip out of the box mendorong organisasi untuk mencari pendekatan baru yang lebih efektif dalam menyelesaikan masalah dan mencapai outcome. 7. Materialitas Kesalahan yang sering terjadi adalah memasukkan terlalu banyak faktor ke dalam pohon kinerja sehingga organisasi kehilangan fokus. Melalui prinsip materialitas, perhatian perlu diarahkan pada faktor yang paling penting dan paling berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. Kesimpulan Tujuh prinsip umum dalam Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021 merupakan fondasi penting dalam membangun pohon kinerja yang berkualitas. Pohon kinerja yang logis, empiris, antisipatif, dinamis, holistik, out of the box, dan berorientasi pada materialitas akan membantu organisasi menghasilkan perencanaan yang lebih fokus, memperkuat keterkaitan antara program dan sasaran strategis, serta memastikan bahwa setiap sumber daya yang digunakan memberikan kontribusi nyata terhadap hasil pembangunan. Dengan memahami dan menerapkan ketujuh prinsip tersebut, instansi pemerintah tidak hanya memenuhi kebutuhan administratif penjenjangan kinerja, tetapi juga membangun sistem manajemen kinerja yang lebih efektif dan berorientasi pada hasil. Nonton Selengkapnya di Youtube Afila Media Karya Tantangan Menyusun Pohon Kinerja Secara Manual Meskipun konsep pohon kinerja terlihat sederhana, proses penyusunannya sering kali melibatkan banyak sasaran, indikator, unit kerja, serta hubungan sebab-akibat yang kompleks. Beberapa tantangan yang umum dihadapi antara lain: Sulit menjaga konsistensi logika antar level kinerja. Revisi pohon kinerja memerlukan penyesuaian pada banyak dokumen. Cascading kinerja menjadi lebih sulit dipantau. Risiko terjadinya duplikasi dan ketidaksesuaian data. Karena itu, banyak instansi mulai memanfaatkan aplikasi manajemen kinerja untuk membantu proses penyusunan dan pengelolaan pohon kinerja secara lebih sistematis. Kelola Pohon Kinerja Lebih Mudah dengan e-SAKIP Afila Melalui fitur Pohon Kinerja pada e-SAKIP Afila, instansi dapat menyusun, mengelola, dan memantau hubungan kinerja mulai dari level organisasi hingga individu secara digital. Proses cascading menjadi lebih terstruktur, terdokumentasi, dan mudah diperbarui ketika terjadi perubahan kebijakan maupun prioritas pembangunan. Jika instansi Anda sedang berupaya memperkuat implementasi Penjenjangan Kinerja sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021, e-SAKIP Afila dapat menjadi solusi untuk membantu pengelolaan pohon kinerja yang lebih efektif, terintegrasi, dan mudah dipantau. 👉 Klik link di bawah ini untuk mencoba demo e-SAKIP Afila. https://afila.co.id/esakip

Transformasi Digital: Optimalisasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) di Era 2026

Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) adalah integrasi dari sistem perencanaan, penganggaran, dan pelaporan kinerja yang selaras dengan pelaksanaan akuntabilitas keuangan. Di era transformasi digital, penerapan e-SAKIP menjadi kunci utama bagi instansi pemerintah (Bappeda, Setda, dan Dinas) untuk meningkatkan efisiensi pelaporan serta meraih predikat penilaian kinerja yang unggul ( A/AA ). Bagi banyak aparatur sipil negara (ASN) di bagian perencanaan dan organisasi, masa-masa evaluasi kinerja sering kali menjadi periode yang penuh tekanan. Sinkronisasi data yang tidak akurat, proses cascading yang manual, hingga laporan yang tidak selaras dengan IKU (Indikator Kinerja Utama) menjadi hambatan klasik yang sering menurunkan nilai evaluasi instansi. Landasan Regulasi SAKIP: Pilar Reformasi Birokrasi Keberadaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan amanat undang-undang yang bersifat mengikat. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenpan-RB) No. 88 Tahun 2021 , evaluasi akuntabilitas kinerja bertujuan untuk memastikan efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran negara. Komponen utama yang menjadi titik berat penilaian meliputi: Perencanaan Kinerja: Keselarasan antara Renstra, Renja, hingga Perjanjian Kinerja. Pengukuran Kinerja: Keandalan instrumen dalam mengukur capaian target. Pelaporan Kinerja: Penyajian informasi kinerja melalui LAKIP yang transparan. Evaluasi Internal: Kedalaman analisis terhadap capaian dan kendala di lapangan. Solusi e-SAKIP Afila: Mengubah Data Menjadi Kinerja Nyata Memahami kerumitan regulasi di atas. Menjawab tantangan implementasi regulasi yang dinamis tersebut, Afila Media Karya menghadirkan e-SAKIP yang dirancang sebagai asisten digital bagi bagian Organisasi dan Bappeda. Produk ini memastikan bahwa setiap data yang diinput selaras dengan struktur pohon kinerja ( cascading ) instansi secara otomatis. Fitur Unggulan e-SAKIP Afila: Automated Cascading: Memastikan penurunan target dari level pimpinan hingga staf terpetakan secara logis sesuai regulasi. Fitur Automated Cascading Afila dirancang khusus mengikuti standar Permenpan-RB No. 89 Tahun 2021 , sehingga memastikan penurunan kinerja instansi terpetakan secara sistematis dari hulu ke hilir." Real-time Dashboard: Pantau capaian IKU secara langsung tanpa perlu menunggu rekapitulasi manual di akhir tahun. Integrasi e-Monev: Sistem ini dapat diintegrasikan dengan modul e-Monev untuk sinkronisasi data perencanaan dan realisasi anggaran secara instan. Gambar: Antarmuka Dashboard e-SAKIP Afila, memudahkan pemantauan IKU secara real-time dan transparan. FAQ: Pertanyaan Seputar Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Berikut adalah beberapa poin yang sering ditanyakan oleh rekan-rekan ASN terkait implementasi SAKIP digital: Bagaimana cara meningkatkan nilai SAKIP dari B ke A? Fokus pada keselarasan ( alignment ) antara anggaran dan hasil kinerja. Penggunaan sistem digital seperti e-SAKIP memastikan tidak ada data yang "terputus" di tengah jalan. Apakah sistem e-SAKIP Afila sesuai dengan standar Menpan-RB? Ya, platform kami dibangun dengan mengikuti struktur evaluasi terbaru yang diatur dalam Permenpan-RB, memastikan setiap output laporan sudah siap saji untuk kebutuhan audit. Apakah data di e-SAKIP bisa ditarik untuk kebutuhan e-Monev ? Bisa. Integrasi adalah keunggulan utama produk Afila untuk menghindari kerja dua kali ( double entry ). Konsultasikan Transformasi Digital Instansi Anda Meningkatkan akuntabilitas kinerja bukan sekadar soal angka, tapi soal membangun kepercayaan publik melalui tata kelola yang transparan. Afila Media Karya siap menjadi mitra strategis Anda dalam mengimplementasikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang lebih modern dan akurat. Jadwalkan Demo Produk e-SAKIP Sekarang Disini !

MARI BERKOLABORASI

Siap Berinovasi & Tumbuh Bersama?

Berikan Kami Tantangan. Kami Siap Menjadi Mitra Strategis Anda Dalam Menciptakan Solusi Digital yang Solutif Dan Berdampak Nyata

Hubungi Kami
Barcode

Scan the code

Hubungi Kami