Memahami 4 Tahapan Penyusunan Pohon Kinerja Sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021
Mengapa Penjenjangan Kinerja Perlu Disusun Secara Tepat?
Memiliki banyak program dan kegiatan belum tentu menjamin tercapainya tujuan organisasi. Tantangan dalam implementasi SAKIP adalah memastikan setiap sasaran, program, hingga kinerja individu memiliki keterkaitan yang jelas dengan hasil yang ingin dicapai.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian PANRB menerbitkan Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021 tentang Penjenjangan Kinerja Instansi Pemerintah sebagai pedoman dalam menyelaraskan sasaran, indikator, dan target kinerja.
Salah satu tahapan penting dalam penjenjangan kinerja adalah penyusunan pohon kinerja. Agar pohon kinerja yang dibangun memiliki hubungan sebab-akibat yang logis dan mendukung pencapaian outcome, terdapat empat tahapan penyusunan yang perlu dilakukan secara berurutan.
4 Tahapan Penyusunan Pohon Kinerja Sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021
1. Menentukan Outcome atau hasil yang akan dijabarkan
Tahap pertama adalah menetapkan outcome yang akan dijabarkan dalam pohon kinerja. Outcome yang ditetapkan harus menggambarkan hasil strategis yang ingin dicapai oleh instansi, yaitu perubahan kondisi yang diharapkan terjadi pada lingkungan maupun masyarakat. Oleh karena itu, penentuan outcome tidak dapat hanya berdasarkan perkiraan, tetapi perlu didukung oleh bukti (evidence), data yang andal, serta kondisi faktual atau isu strategis yang terjadi.
Dalam menentukan outcome strategis, instansi perlu memperhatikan beberapa faktor, yaitu:
Mandat tugas dan fungsi organisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Isu strategis atau permasalahan yang sedang dihadapi maupun yang akan dihadapi.
Ekspektasi atau harapan masyarakat dan stakeholder terhadap kinerja organisasi.
Penentuan outcome menjadi langkah awal yang penting karena akan memengaruhi keseluruhan bangunan kinerja instansi. Outcome yang tepat akan menjadi dasar dalam menentukan faktor keberhasilan, menyusun hubungan sebab-akibat, hingga menetapkan indikator kinerja yang sesuai.
2. Identifikasi Critical Success factor yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja atau outcome strategis
Setelah menetapkan outcome strategis, tahap berikutnya adalah mengidentifikasi Critical Success Factor (CSF) yang dibutuhkan untuk mencapainya. CSF adalah area atau aspek-aspek kunci dan kritis yang berpengaruh dalam mewujudkan kinerja. Apabila CSF tercapai, maka outcome berpotensi besar untuk tercapai. Identifikasi CSF menjadi langkah awal dalam membangun model logis kinerja, yaitu dengan memahami kondisi apa saja yang diperlukan agar outcome dapat tercapai.
Dalam menentukan CSF, instansi perlu memastikan bahwa faktor yang dipilih memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas terhadap pencapaian outcome, bukan hanya berdasarkan program atau kegiatan yang sudah berjalan. Dengan CSF yang tepat, instansi dapat menyusun pohon kinerja yang lebih logis dan mendukung pencapaian outcome strategis.
3. Uraikan Critical Succes Factor kepada Kondisi-kondisi Antara Sampai kepada Kondisi Paling Teknis atau Operasional
Tahap ketiga adalah menjabarkan CSF menjadi kondisi antara hingga kondisi yang lebih teknis atau operasional. Proses ini dilakukan dengan menggunakan hubungan sebab-akibat:
“Kondisi apa yang diperlukan agar CSF dapat terwujud?”
Dalam tahap ini, instansi perlu fokus pada kebutuhan pencapaian kinerja terlebih dahulu, bukan langsung menghubungkan dengan program, kegiatan, struktur organisasi, atau anggaran yang sudah tersedia.
Tujuannya adalah agar pohon kinerja yang dibangun benar-benar menggambarkan hubungan logis antara faktor penyebab dengan hasil yang ingin dicapai.
4. Melengkapi dengan Indikator Kinerja
Tahap terakhir adalah melengkapi setiap variabel dengan indikator kinerja. Indikator berfungsi sebagai ukuran keberhasilan untuk melihat apakah sasaran, program, atau kegiatan telah mencapai hasil yang diharapkan. Indikator kinerja harus mampu menggambarkan pencapaian dalam bentuk:
Output (keluaran)
Outcome (hasil)
Impact (dampak)
Agar indikator yang disusun memiliki kualitas yang baik, indikator perlu memenuhi kriteria SMART:
Specific (Menunjukkan kondisi yang spesifik, tidak bias, atau bermakna ganda).
Measurable (Dapat diukur secara objektif, dan memiliki ukuran kuantitatif).
Attainable (Memungkinkan untuk dicapai, tidak terlalu sulit, namun tidak terlalu mudah dicapai).
Relevant (Memiliki keterkaitan dengan kinerja yang diukur).
Timebound (Memiliki batas waktu pencapaian yang jelas).
Keempat tahapan tersebut menjadi fondasi dalam menyusun pohon kinerja yang logis dan berorientasi pada hasil. Dengan mengikuti setiap tahapan secara berurutan, instansi dapat membangun hubungan sebab-akibat yang jelas sehingga pohon kinerja dapat menjadi dasar penyusunan indikator, cascading, dan komponen kinerja lainnya.
Untuk memahami lebih lengkap mengenai tahapan penjenjangan kinerja sesuai Permen PANRB Nomor 89 Tahun 2021, simak video berikut.
Kelola Penjenjangan Kinerja Lebih Mudah dengan e-SAKIP Afila
Menyusun pohon kinerja, cascading, indikator, hingga monitoring capaian secara manual dapat menjadi tantangan, terutama ketika melibatkan banyak unit kerja. Melalui e-SAKIP Afila, instansi dapat membantu mengelola penjenjangan kinerja secara lebih sistematis dan terintegrasi, mulai dari penyusunan sasaran hingga pemantauan capaian kinerja.
Dengan pengelolaan kinerja yang lebih terstruktur, instansi dapat lebih mudah memastikan bahwa setiap program dan kegiatan benar-benar mendukung tujuan organisasi.
Kelola kinerja instansi Anda lebih mudah bersama e-SAKIP Afila.